Monday, March 23, 2015

Cita-Citaku bukan Cita-Citata

Pengen cerita macem2 nih. Langsung aja yah.
Huft. Gue sakit. Sakitnya tuh di lutut. Mungkin lagi musim atau apa, yang jelasnya saat ini gue bisul tepatnya itu di lutut. Sifat alamiah manusia sadar kalo ternyata koreksi diri dengan menjaga makanan yang sehat lebih baik daripada mengobati.

Bisul, iya awalnya Adi abis itu gue di awal minggu baru2 ini dan kemarin si Asma. Anehnya semuanya kompakan di lutut. Kok bisa ya? ya miris aja, sekarang gue gak bisa shalat berdiri yang menyebabkan gerakan sujud gue gak begitu sempurna dan kadang2 harus duduk pula. Semalam diprotes sama si Isna karena sujudnya gak nyentuh lantai. Apa boleh buat. Tar deh gue pake bantal kenapa? karena orang2 yang ngeliat gue shalat bakal bertanya KOK RUKU'NYA TIGA KALI. Huhuhu.

Kabar nyokap, baik alhamdilillah. Nyokap cuma butuh terapi rutin tiap saat biar bintitannya yang sejak November itu bisa benar2 sembuh. What about bokap? sinusnya bokap kambuh lagi. Jadi hal paling utama untuk saat ini adalah kasih perhatian yang lebih ke mereka berdua. Ya walopun gue juga lagi sibuk2nya nyelesaiin ketikan penyelesaian matematika dan format2 arsip untuk sekolah.

***
Eniwei, ngomongin tentang cita-cita. Waktu kecil dulu gue mo jadi polisi. Pas masuk SMP cita-cita itu ilang gue malah mo jadi pesepakbola gara-gara demam piala dunia. Trus masuk SMA cita-cita gue berubah pengen jadi dokter. Pas masuk universitas cita-cita waktu SMA pun ilang eh malah pengen jadi arsitektur di taun2 berikutnya. Abis itu pas selesai kuliah keinginan untuk jadi psikolog ada juga sih padahal gue anak gizi gitu dan disitulah gue baru sadar kalo ternyata cita-cita itu bisa berubah seiring berjalannya waktu. Semenjak master chef suka ditayangin di tivi, gue malah bertekad jiwa dan raga untuk menjadi seorang chef. Gue bermimpi suatu hari nanti gue bisa pake apron chef kek chef2 yang lain. Mencicipi banyak makanan lalu mengoreksinya, selayaknya chef.

Sebenarnya simple aja sih untuk jadi chef, cukup mengexplore seluruh bahan lalu olah menjadi sebuah makanan yang punya nilai artistik tinggi baik dari segi rasa ataupun dari segi tampilan. Udah. Gitu aja. Hanya saja gue kadang belum terlalu ahli dalam hal masak memasak. Yah, kalo masakannya gak gosong paling hampir mencelakai diri sendiri di dapur. Huhuhu.

Ambil contoh beberapa hari yang lalu waktu Asma nyuruh gue goreng tempe. Gue kan orangnya suka ngerjain banyak hal dalam waktu yang sama. Contoh, kalo lagi ngetik depan laptop sebisa mungkin gue nyalain radio atau mp3. Jadi aktivitas dengar radio gue bermanfaat karena dengan ngetik tangan gue juga ikut kerja. Contoh lagi, sambil gendong Fathan, gue juga nyayi2 atau makan sambil liat makanan yang ada di piring. Nah, berhubung gue orangnya rada-rada doyan ngerjain 2 kerjaan sekali waktu akhirnya gue menggoreng tempe sambil nonton tipi. 

Seperti yang dibilang ama dosen gue si ibu Dyah, sekali merengkuh dayung, tiga pulau terlampaui. Gue akhirnya menempuh jalan itu. Tapi kali ini bukan tiga pulo terlampaui, tapi banyak pulo. Menggoreng, nonton, duduk, napas, liat2 sekitar. Gue menggoreng pake sude yang di pegangannya itu gak pake pengalas. Jadi kalo tuh sude kelamaan disimpen di atas wajan kemungkinan besar panasnya bisa meresap ke dalam pegangannya. Setelah masakan nunjukin bau2 kek udah matang menghampiri mau gosong, dengan sigap gue pun langsung megang tuh sude dan...

ARGHHHHHHH

Gue cuma bisa geleng2 sambil ngibas2in tangan ke udara. Panasnya tuh disini *nunjuk telapak tangan*. 

***
Dan terkadang cita-cita yang tidak pernah terfikirkan malah itu yang kita jalani sekarang. Jadi dosen di universitas, ah gak pernah terlintas di benak gue. Waktu kerja di kampus pun cita-cita untuk jadi dosen PNS semakin menggebu-gebu. Segala cara gue lakuin mule dari ngurus STR di dinas, kartu kuning dan SKCK di kepolisian. Akhir taon 2014 kemarin sempet sih daftar tapi belum sempat bertarung gue udah kalah duluan. Yayaya, sistem online kadang membuat gue terbelenggu oleh kedodolan gue sendiri. Gue salah isi biodata yang menyebabkan gue gak bisa lanjut ke tahap selanjutnya.

Awal taun 2015, gue memilih kembali di jalur pendidikan untuk memajukan sekolah. Sekarang masih dalam rekonstruksi ke arah yang lebih baik. Minta do'anya semua semoga kita sebagai bagian dari orang2 yang peduli pendidikan bangsa benar2 bisa memajukan dunia pendidikan lewat aksi2 nyata, karena karya dibuat dengan aksi bukan hanya sekedar kata-kata.

Monday, March 16, 2015

Sekolah Impianku

Gue terbangun di suatu subuh dari tidur kemudian mengucek2 mata tak lupa membaca do'a bangun tidur. Pagi yang cerah waktu itu di awal tahun 2015, gue ditugasi mengunjungi sebuah institusi pendidikan bernama "Sekolah Impianku" untuk sekedar mengamati sistem pendidikan disana seperti apa.

***
Sekolah itu terletak di tengah2 kota. Lumayan sederhana dibandingkan dengan sekolah negeri atau kejuruan pada umumnya. Sekolah itu bisa ditempuh dengan berjalan kaki oleh sebagian siswanya, ada juga yang naik sepeda bahkan naik angkutan umum.

Sebelum memasuki pintu gerbang sekolah, terlihat spanduk tahan air, angin dan badai bertuliskan : "SELAMAT DATANG DI SEKOLAH KAMI" tepat berada di atas pintu gerbang.

Kaki ini mulai melangkah pelan memasuki sekolah disambut oleh satpam dengan ramah sambil melempar senyum si satpam bertanya "Ada yang bisa saya bantu?". Nice. Setelah mengutarakan maksud dan tujuan untuk bertemu kepala sekolah, gue dipersilahkan untuk menunggu di salah satu tempat duduk di koridor depan kelas.

Melewati pintu kedua, terdapat papan bertulis "SELAMAT DATANG DI AREA BEBAS ROKOK, DI AREA SOPAN DAN SANTUN". Jika berjalan didalamnya luas sekolah bisa ditebak berukuran sekitar 21x26 meter. Cukup menampung enam kelas. Punya ruang kepala sekolah, ruang guru, perpustakaan, ruang tata usaha, wc dan kantin sama seperti sekolah2 lainnya. Bedanya cuma di ukuran. Semua ruangan terlihat lebih kecil dari yang seharusnya terlihat. Hanya tersisa 3 kelas yang benar2 sesuai dengan ukuran kelas pada umumnya yaitu 7x7 meter. Tiga kelas lainnya hanya dibatasi oleh sekat triples apa adanya. Dimana suara akan tetap terdengar ke ruangan yang ada di sebelahnya.

Salah satu kelas dibatasi dengan ruang tata usaha, meski begitu mereka tetap merasa nyaman. Siswa2nya cukup bisa mengerti keadaan sekolah dimana mereka mencari ilmu tiap pagi. Mereka tidak merasa risih sedikit pun. Mereka tidak merasa malu bersekolah disana. Disebelah ruang tata usaha terdapat ruang kepala sekolah dengan 1 wc dan sekitar 4 sofa untuk menerima tamu.

Tepat di sebelah kiri dari ruang kepala sekolah terdapat perpustakaan yang besarnya lumayan sama dengan besar ruangan kepala sekolah. Di depan perpustakaan ada sepetak kecil kantin kira2 berukuran 2x2 meter. Kantinnya diberi nama "Kantin Sehat". Ada slogan yang cukup menarik di kantin bunyinya kurang lebih seperti ini "Makan sepuasnya. Bayar seikhlasnya". Pemandangan langka yang jarang ditemukan dimana pun kecuali di Vienna. Kantin ini dipelopori oleh pihak yayasan dari sekolah itu. 

Tepat dekat kantin itu terdapat dua kelas yang saling berdampingan. Kedua kelas itu hanya dibatasi oleh triples yang tidak begitu kuat sebagai pengganti tembok.

***
Sekolah ini hanya membina sedikit siswa. Tiap kelas hanya dihuni oleh 20 orang, tidak pernah lebih dari itu. Sambil menunggu kepala sekolah yang sedang menerima tamu gue sesekali memperhatikan bunga2 dan beberapa pepohonan yang sesekali ditiup angin yang membuat suasana semakin adem dan nyaman duduk di pelataran kelas.

Saat jam istirahat tiba, para siswa terlihat begitu antusias. Ada yang menyerbu kantin ada yang bermain basket, ada yang hanya sekedar menonton teman2nya bermain. Pemandangan yang jarang sekali ditemukan ketika para siswa itu menuju kantin, bukannya berebutan ingin dilayani tapi mereka berbaris rapi menunggu giliran. Tidak ada siswa yang memegang rokok bahkan menghisapnya di area sekolah. Begitu juga dengan guru2 atau kepala sekolahnya. Tidak ada aktivitas pacaran seperti yang biasa terlihat di sinetron2. Tidak ada kata2 kotor terdengar dari mulut siswa2nya. Hanya ada 3 kata yang paling sering gue dengar waktu itu : minta tolong, maaf, dan terimakasih. Mengagumkan.

Saat menikmati udara sekolah yang menyegarkan itu mungkin ada sekitar 2 guru dan satu staf datang di waktu berbeda dan menghampiri gue dengan pertanyaan yang sama "Ada yang bisa saya bantu?". Seolah mereka ingin menegaskan bahwa di sekolah itu tidak ada tamu yang tidak dilayani dengan baik. Belum habis kesan yang gue rasa, pandangan gue seketika teralihkan ketika melihat ada siswa yang meninggalkan hefonnya di kursi koridor depan kelas lalu dia lupa mengambilnya. Belum juga bel masuk kelas, para siswa mulai masuk di kelasnya masing2 diikuti oleh gurunya masing2. Lima menit setelah itu terlihatlah lapangan dan pelataran menjadi kembali kosong melompong. Bel pun berbunyi dan henfon itu masih disana.

Sungguh pemandangan yang sangat unik. Seunik sistem dan kurikulum yang dipakai oleh sekolahnya. Sepuluh menit berlalu gue menduga akan ada satu atau dua orang yang akan mengamankan henfon itu lalu mengambilnya. Ya, bukankah negara Indonesia memang seperti itu, gue bergumam dalam hati. Tapi dugaan gue salah henfon yang tadi tidak berpindah sedikit pun dari tempat semula sampai giliran gue bertemu kepala sekolah. Selama perbincangan itu tidak pernah sekalipun ada guru atau staf yang datang sekedar mendongakkan kepalanya lewat pintu lalu pergi atau tiba2 masuk tanpa mengetuk pintu lalu masuk minta tanda tangan dan pergi begitu saja.

Di sekolah ini setiap anak di masing2 tingkatannya berhak memilih 8 mata pelajaran setiap semesternya dari 12 mata pelajaran yang disiapkan. Lima mata pelajaran diantaranya adalah mata pelajaran wajib seperti ilmu hitung, pengetahuan alam dan bahasa. Tiga lainnya adalah pelajaran pengembangan bakat anak terdiri dari kelas chef, gambar bangunan dan kelas olahraga. Sebelum memutuskan benar2 meninggalkan sekolah itu, gue balik lagi di koridor tempat duduk sebelumnya. Mengejutkan. Henfon itu masih disana. Tidak lama kemudian jam belajar pun berakhir. Siswa yang tadi gue liat meninggalkan henfonnya pun datang dengan santai mengambil henfonnya lalu pulang dengan teman2nya yang lain.

Entahlah sistem dan kurikulum apa yang dipakai tapi sekolah ini benar2 membentuk siswanya bukan sekedar menjadi makhluk "knowing" tapi juga makhluk "being". Seolah sistem dan kurikulumnya dibuat sebegitu kreatifnya sampai2 semua terlihat begitu beretika yang benar2 memanusiakan manusia. Sekolah yang mungkin hanya bisa didapati di negara Finlandia. Sekolah yang mementingkan standar etika dan moral sebagai pondasi membentuk bangsa yang kuat dan cerdas.

***
Sesampainya di rumah gue menceritakan kejadian ini ke nyokap bokap dan buktinya bukan cuma gue yang terkesima tapi mereka pun demikian. Harapan gue dan mereka sama.

Sampai akhirnya gue disuruh bokap untuk ngajarin Nada matematika tentang pecahan dan perbandingan. Saat mengerjakan soal yang mudah itu, gue malah gak konsentrasi. Diantara 5 nomor, satu pun tidak ada yang selesai selama seperempat jam.

Mungkin karena gue kurang minum aqua atau apa. Entahlah.

Sambil ngerjain soal, yang membuat gue keringat dingin itu nyokap pun memanggil...

"Cikkk Acikkk... Bangunko nak, ndak ke sekolahko Ujian sekolahmi anak2. Bangunko !!!"

Ternyata gue cuma mimpi. Iya, mimpi dari orang kecil yang sudah muak dengan sistem pendidikan yang ada di negerinya sendiri.

Sunday, March 8, 2015

Timezone I Am Coming

Wiken gue so far cukup menyenangkan sih minggu ini. Kenapa? karena gue ke timezone lagi (lho? emang tuh umur belum cukup ketuaan Cik untuk main-main apa gitu di timezone?).

Hueuehe, ini mah bukan masalah gue uda ketuaan main disana apa kaga. Perlu diketahui bersama sodara-sodara kalo gue kesana dalam rangka ingin mengharumkan nama sekolah, nusa dan bangsa bersama St. Chalijah Emba anak SMP kelas VII yang gue antar untuk ikutan lomba matematika.

Ceritanya sih dimule sekitaran seminggu yang lalu ketika gue mendapati info dari Ira, sepupu gue via akun sekolah. Sehubungan dengan tugas gue sebagai bagian dari tim pengembang sekolah ide brilian ini selalu gue koar2kan di dalam setiap kesempatan. Mule dari akun sekolah, pas nyampe rumah, rapat osis sampe rapat dewan guru.

Beberapa hari setelah rapat dewan guru di awal minggu, Kamisnya si Ija' gue daftarin di timezone. 

Jam berganti jam. Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Sisa terangbulan yang belum berganti dari tampilan biasanya. Terangbulan hanya dibedakan dari dua segi yakni rasa dan ukuran (opo coba?).

oke, lanjut.

Hari2, gue lalui dengan semangat perjuangan yang tak kenal lelah. Gue disibukkan dengan interaksi dengan anak2 osis, guru2 dan pegawai di sekolah demi kelancaran seluruh program. Mule dari masalah sepele seperti "bu, ndak tauka bikin struktur osis !" sampe hal yang paling genting. PDSS. Ngurusin data anak2 kelas XII yang mau ikut jalur undangan SNMPTN taon ini hingga bagemana susahnya bekerjasama dengan operator sekolah. 

Sampe akhirnya semua urusan bisa selesai sedikit demi sedikit. Dimana ada kesabaran disitu ada solusi.

Pagi tadi pukul 10.30 gue bergegas ke mal panakkukang untuk selanjutnya berjumpa dengan Ija' sekaligus temu sapa dengan nyokapnya. Sambil lari2 kecil mencari mereka berdua di mal gue bak runner di adegan2 running man mencari bintang tamu. Judulnya kali ini, seek and hike before meeting the guest. Hhehe.

Bingung mencari, lambat di jalan. Gak ngerti arah, sesat di pintu keluar. Gue telfon Ija' sambil berlari2 kecil keliling2 mal. Hingga gue ketemu mereka di parkiran pintu belakang. Bukan pintu depan atau di samping. Gak perlu banyak basa basi, kita bertiga naek ke lante tiga tempat dimana timezone berada. Lomba matematika dimulai pukul 11 dan waktu di henpon sudah hampir menunjuk ke 11.00 wita.

Sampe lante tiga, gue perhatiin area antara timezone dan ice skating tidak menunjukkan adanya tanda2 lomba seperti yang seharusnya terlihat. Kita masuk di timezone dan jawaban dari pihak panitia sangat mengejutkan.

"ADUH BU, NDAK JADI KEKNYA KARENA YANG BARU DATANG BARU DUA ORANG DENGAN KITA"

Hah?

JADI? JADI? JADI? 

Pantas pas daftarin Ija' lomba hari Kamis kemarin, si mbak2nya langsung hepi gitu dan gak bisa lagi berhenti senyum. Seakan2 gue adalah peserta pertama atau kedua yang bawa siswa kesana untuk ikut lomba.

Hari ini gue yakin seperti itulah adanya.

Gue kecewa, Ija' pun demikian. Apalagi nyokapnya Ija', gue cukup ngeliat gimana dia memandang gue dan menjawab pertanyaan2 gue sekenanya. Gue cuma bisa terdiam sesekali memecah keheningan trus bilang "Ibu, ayok kita main2 sama Ija'..." Jleb.

Mungkin Ija' uda banyak belajar untuk lomba hari ini. Dan semua kekecewaan kita hari ini hanya dibayar dengan bermain gratis 7 game itupun cuma 2 yang kita mainin salah satunya adalah tembak2 yang bikin kaki gue sedikit kram. Sisa saldo untuk gratis kartu bermain kita yang seharga 10rb itu juga abis dengan hanya 2 kali main "tarik capit-tekan tombol-ambil boneka" yang berakhir dengan tragis karena kita sama sekali gak pernah menang dapetin bonekanya.

Huhuhu

Satu hal yang bikin gue sadar ketika pulang ke rumah dan info ini sampai ke telinga bokap nyokap adalah...

KITA MENANG SEBELUM BERTARUNG...

Saturday, February 28, 2015

Anak Sekolah Masa Gitu

Yep, genap seminggu ini gue ke sekolah. Kelengkapan pembaharuan data guru dan staf pun so far so good lah ya setidaknya udah 55% yang terkumpul. Untuk siswa, gue serahin semua tanggung jawabnya ke wali2 kelas. 

Capek juga ternyata jadi mediator antara kepsek sama guru2. Berasa kek jaman pra sejarah gitu. Seolah gue operator pager yang kalo si A mo ngomong ke si B harus lewat gue dulu. Huhuhu. Tapi pas inget kalo ada program belum jalan, makan pun terasa gak enak. Huft, andekan semua jajaran di sekolah berfikirnya seperti ini *natap langit2 kamar*.

Menjadi bagian dari sekolah adalah sesuatu yang baru buat gue. Baru berapa bulan itu? oh yap baru 2 bulan ini. Nah, kemarin kan udah pernah juga ngerasain gimana kalo ada di kampus. Gimana kalo lagi di tengah2 mahasiswa. Gimana kalo bicara sama mereka. Dan ternyata sodara2ku sekalian rasanya tuh beda banget kalo lagi ada di tengah siswa2 di sekolah.

Di kampus gue gak bakal nemuin mahasiswa yang pas kita mo masuk kantor ada yang main bola di tengah lapangan. Di kampus gue enjoy2 aja. Tapi pas mengunjungi suatu tempat bernama "sekolah" semua persepsi itu menjadi sesuatu yang baru.

Gue kalo nyampe sekolah, kalo gak disamperin pake cium tangan di jidat palingan disenggol dikit ama bola. Saking rindunya mereka sama yang namanya lapangan sepakbola, pernah sekali bolanya kena kaca rumah bangunan di sebelahnya. Hingga laporan guru2 sampe di yayasan.

Ah anak2 sih pada banna'2 semua.

Anak2, kalo gak ditanamkan pendidikan akhlak yang baik jadinya bisa kek ayam yang induknya ilang. Bergelantungan kemana2 misalnya ato merayap kemana2 misalnya. Persis kek hari Jum'at kemarin. 

Pas gue dateng ada sebiji anak kelas 3 SMA udah depan pagar. Pas turun dari angkot hal pertama yang terlintas di pikiran gue adalah GILE TUH SARAH BARU JAM 10 MO KEMANA YAK?

Perlu digarisbawahi guys kalo kejadiannya itu JAM 10 PAGI. Inget JAM 10 PAGI. Hal yang waktu gue sekolah menjadi sesuatu yang tabu untuk dilakukan. Waktu sekolah gue mo fotokopi aja itu dicegat ama satpam sekolah. Ya gimana kalo mo kabur kek gini coba. Mungkin gue udah dikejar2 trus ditabokin buku mungkin dari belakang.

Info yang gue dengar waktu itu sih karena gurunya sakit. Okeh, gue maklumin. 

Pas mo nyampe tengah lapangan, terlihatlah si Mirna yang notabene sepupu gue dan temen2nya uda pake jaket, megang tas dan hohoho mereka pada mo kabur semua. Oh Tuhaaan... kalo kita beneran ada di lapangan sepakbola mungkin gue udah keluarin kartu kuning.

Gue ngasih laporan ke wali kelasnya dan sang ibu wali kelas cuma bisa menjerit. Gue merhatiin tuh wali kelas nyamperin anak walinya ke kelas and guess what? apa yang terjadi sodara2? anak walinya malah ngajakin si wali kelasnya ini groufie. Jiahhh.

Hancurlah peradaban guru dan anak sekolahnya.

Sekarang anak sekolah udah kek mahasiswa. Gak ada dosen pulang, gak ada guru ya pulang. Anak sekolah masa gitu?

Disini saya kadang merasa sedih (lho?).

Beberapa waktu yang lalu gue juga udah memperbaharui data siswa sesuai absen masing2 kelas. Pas ngecek absen kelas 3 SMA, ternyata namanya Sarah itu gak ada. Nah, lo.

Sempat sih waktu mo ngasih buklet ke dia, gue nanya :
Gue : Sarah, yang mana itu temanmu namanya Cristallino?
Sarah : Sayami
Gue : ...

(tingkat penasaran yang berlanjut sejak mo ikut my movement)

Gue telusuri lagi lewat chat bareng grup guru dan staf sekolah, disitulah gue menemukan pencerahan. Sarah Nurul Fadilah hanya sekedar nama fesbuk yang begitu tenar di mata temen2nya di sekolah. Sarah yang menurut pengakuan salah satu staf sekolah adalah nama ketika dia hijrah menjadi seorang muallaf. Sarah hanyalah nama yang dikenal sebagai "Sarah" bukan "Cristallino".

Dan gue, terlalu bodoh menyikapi hal itu.

Kenapa?

Karena awalnya gue mikir Cristallino dan Sarah adalah dua orang yang berbeda.

Sunday, February 22, 2015

Aku dan Sekolahku

Huatchim

*tarik ingus*

Iya itu gue. Akibat terlalu banyak begadang dan istirahat tidak teratur. Apalagi Fathan yang lagi demen2nya bangun jam 23.00 trus gak tidur sampe subuh hampir seminggu ini. Ya udah, di rumah kita jagain dia estafet-an. Huhuhu. Awalnya sih om Ridu yang kena flu, abis itu Isna lalu umminya Fathan berlanjut ke Fathan dan sekarang gue dan nyokap. Yep, hampir seisi rumah deh. Tapi setelah minum teh anget2 bareng nyokap, i feel so much better now. Kepala doang yang keletihan memikirkan banyak hal ditambah lagi leher tegang gini. Huft. Show must go on.

Target gue Februari ini adalah melengkapi seluruh data2 siswa, guru dan pegawai di sekolah. Bantuin bokap dan nyokap meng-handle semuanya. Kalo bisa sih kelar sampe akhir bulan ini. Ih target tuh dan plis deh gue gak mau sampe nyebrang Maret. Program gue untuk perbaikan sekolah bejibun2. Kalo sebulan cuma bisa satu program kan berabe. Malu nih gue sama bokap nyokap kalo program kecil gitu doang gak bisa selesai.

Nah, salah satu program gue adalah ngajakin anak2 di sekolah untuk ngikutin programnya LDS (Lembaga Dakwah Sekolah). Temanya 'My Movement : Kamilah Pemimpin Masa Depan'. Kegiatan yang seminggu lalu gue posting. Dan beberapa waktu yang lalu si Uya' temennya si Isna ngasih gue kabar gembira kalo testimoni hasil wawancara gue dimuat dan videonya pun on process waktu itu. Malamnya si Isna bilang "WEH ADAMI ITU VIDIO NU, SUDAHMI NULIAT?"

TIDAAAAAKKK

Gue juga dag dig dug menantikan hasilnya kek gimana. Rupa, gaya dan cara gue berkomentar gimana. Malam itu pun gue beranikan diri untuk nonton videonya bareng2 Isna dan Fitrah di rumah. Itupun karena penasaran liat hasilnya. Gue ngakak sebelum video wawancara gue diputar di yutub. Iya gue masuk yutub sodara2. Fitrah dan Isna sampe terbahak2 sekaligus ngoreksi banyak hal tentang performens gue waktu itu (apa coba). Gimana gue berdirilah, gimana ngasih mimik dan gaya bicara gue yang rata2 pales semua. Terang aja adek2 gue pada ketawa semua. Efek baru masuk kamera. Wuah gak lepel nih.

Btw, program gue selanjutnya apalagi kalo bukan bikin spanduk. Pertama spanduk pengenalan sekolah ke siswa/i dan guru2 di sekolah. Kedua spanduk penerimaan siswa/i baru untuk bimbingan matematika bokap di rumah. Gambarnya uda gue share via twitter. Tujuannya juga gue pikir sih sederhana, agar mereka dapat mengakses seputar info sekolah via internet dengan lebih mudah tanpa harus menyalahartikan fungsinya. Asik.

Masalah spanduk hari Jum'at udah gue kelarin. Sebagai pemula gue belajarlah ilmu coreldraw sama Isna. Hasilnya menurut gue kerenlah ya. Cukup menguras pikiran, tenaga, otot dan urat. Lumayan mengesankan. Semengesankan kejadian di hari pertama (Senin kamarin) mengenal yang namanya coreldraw lebih dalam.

Ceritanya waktu itu gue baru belajar gimana tekan2 toolnya. Fungsinya apa, digunakannya kapan. Bermodal ilmu cetek lagi gak mumpuni, gue mule mencoba nge-draw objek kartun dengan sedikit contoh dari Isna. Semuanya berjalan bagus kek air mengalir aja gitu. Sore, sekitar pukul 16.00 waktu sekitar rumah gue mule mengedit garis2 lurus yang mau gue shape karena ada beberapa garis yang salah.

Gue mengeditnya satu per satu dengan cara menarik garis2 yang tadi sampe terhapus satu2. Susahnya pas sudah ditarik bukannya terhapus malah terbentuk garis lengkung baru. Oh Tuhaaann...

Pas mau adzan maghrib, si Isna yang penasaran gambar gue udah melaju sampe mana pun bertanya :

Isna : Selesaimi?
Gue : Belum, masih menghapuska
Isna : Wo...

Beberapa menit kemudian...

Isna : Sampe dimana meko?
Gue : Belumpi selesai kuhapus, deh give up meka deh ndak sanggupka
Isna : Mana liakka, yang mana kah?
Gue : Inie susahna dihapus
Isna : Astaga, INI JI SAJA DIKLIK BARU DELETE MI

*gubrakkk*

Akhir2 ini panas ye, mungkin pengaruh palem dan kurma depan rumah gue abis dipangkas kali ya untuk parkiran. Eniwei, sukses pertengahan minggu ini panen nangka di samping rumah. Cta, Arni, Imak mari2 datang ke rumah heheh...